Cara Menjaga Momentum Ibadah Setelah Pulang dari Tanah Suci

Pulang dari tanah suci sering kali menghadirkan perasaan campur aduk.
Hati terasa penuh, jiwa lebih tenang, tapi di saat yang sama muncul rasa khawatir: “Apakah aku bisa tetap seperti ini setelah kembali ke rutinitas?”
Di Makkah dan Madinah, ibadah terasa begitu mudah. Masjid dekat, suasana mendukung, dan fokus hidup seakan hanya satu: Allah. Namun ketika kembali ke rumah, dunia berjalan lagi seperti biasa—pekerjaan, keluarga, notifikasi ponsel, dan berbagai distraksi lainnya.
Menjaga momentum ibadah setelah dari tanah suci memang bukan hal mudah, tapi sangat mungkin dilakukan dengan cara yang realistis dan penuh kasih pada diri sendiri.
1. Turunkan Target, Naikkan Konsistensi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ingin mempertahankan level ibadah yang sama persis seperti di tanah suci. Akhirnya, ketika tidak sanggup, kita justru berhenti sama sekali.
Padahal, yang lebih penting adalah konsistensi, bukan kuantitas.
Lebih baik:
-
membaca Al-Qur’an 1 halaman setiap hari
daripada -
membaca 1 juz tapi hanya bertahan beberapa hari.
Momentum tidak dijaga dengan ledakan semangat, tapi dengan langkah kecil yang setia.
2. Bawa Pulang Satu Ibadah Paling Berkesan
Coba ingat kembali:
-
ibadah apa yang paling menyentuh hati di tanah suci?
-
momen doa mana yang paling membuat air mata jatuh?
-
kebiasaan apa yang membuat hati terasa dekat dengan Allah?
Pilih satu ibadah inti, lalu jadikan itu rutinitas harian setelah pulang.
Misalnya:
-
doa panjang setelah Subuh
-
dzikir tertentu yang sering dibaca di Masjidil Haram
-
shalat sunnah yang selalu dijaga
Anggap itu sebagai oleh-oleh ruhani yang paling berharga.
3. Jangan Menunggu Khusyuk untuk Beribadah
Banyak orang berhenti beribadah karena merasa:
“Hati sudah tidak sekhusyuk di sana.”
Padahal, khusyuk adalah buah, bukan syarat.
Ibadah yang dilakukan terus-meneruslah yang akan melunakkan hati, bukan sebaliknya.
Di tanah suci pun, kekhusyukan hadir karena kebiasaan, lingkungan, dan pengulangan. Maka setelah pulang, teruskan ibadahnya, meski rasanya biasa saja. Allah tetap menilai usaha, bukan perasaan.
4. Kenali Hal-Hal yang Membuat Ibadah Menurun
Momentum ibadah sering jatuh bukan karena niat yang lemah, tapi karena pemicu yang dibiarkan.
Coba refleksikan:
-
apakah terlalu banyak waktu di media sosial?
-
apakah pola tidur berantakan?
-
apakah lingkungan kurang mendukung?
Tidak perlu mengubah hidup secara drastis. Cukup pasang rem kecil:
-
batasi waktu layar
-
jaga jam tidur
-
pilih konten dan pergaulan yang tidak menjauhkan dari Allah
5. Perbanyak Doa Agar Diberi Istiqamah
Istiqamah bukan hasil kekuatan diri, tapi karunia Allah.
Rasulullah ﷺ sendiri sering berdoa:
“Allahumma ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu)
Biasakan doa ini:
-
setelah shalat
-
sebelum tidur
-
saat merasa iman mulai menurun
Meminta agar tetap dekat dengan Allah adalah bentuk kerendahan hati yang paling indah.
6. Terima Bahwa Iman Naik dan Turun
Satu hal penting yang sering dilupakan:
iman memang tidak selalu berada di puncak.
Yang terpenting bukan selalu merasa “spiritual”, tapi:
-
tetap menjaga shalat
-
tetap berusaha menjauhi yang haram
-
tetap ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya
Jika setelah pulang dari tanah suci ibadahmu lebih baik dibanding sebelum berangkat, maka itu sudah merupakan kemenangan besar.
Mau Umroh kamu lebih bermakna ayo pilihlah kami PT. Armindo Jaya Tur untuk mendampingi anda menuju tanah suci :

